Ketangi 20/09/2018, sebuah tradisi yang turun temurun yang dilakukan oleh masyaraka dusun Dukuhsari desa Ketangi. Jangan Jamu (Suronan) adalah tradisi masayarakat yang dilaksanakan setiap malam 10 Suro (Muaharom). Kegiatan ini diikuti oleh semua warga muda, tua maupaun anak-anak.

Ada yang khas dari tradisi jangan jamu ini. Jangan jamu adalah makanan khas yang disajikan bulan  suro. Jangan jamu terbuat dari sayur-sayuran seperti kancang-kacangan, kentang, boncis, tempe, tahu yang dimasak dijadikan satu. Namun yang berbeda dari yang lain adalah aroma dan rasa seperti ada rasa jamu.

 Setelah melaksanakan zdikir tahlil bersama-sama masyarakat bersama-sama genduren makan jangan jamu. “jangan jamu atau suronan ini merupakan tradisi turun temurun dari para ulama terdahulu, pelajaran ini diambil dari kisah para nabi yang pada tanggal 10 muharom terbebas dari cobaan.  Seperti nabi Nuh yang terbebas dari air bah tepat pada tanggal 10 muharom, nabi yunus selamat dari ikan paus, dan lainnya. Maka masyrakat meneladani pada tanggal 10 Muharom melakukan syukuran dengan Jangan Jamu ”. Tutur muh jamil salah satu sesepuh.